ivaa-online.org

Djoko Pekik

Djoko Pekik lahir pada 2 januari 1937 di Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah. Pendidikan formal bidang seni yang diterima Djoko adalah pada tahun 1957-1962 di Akademisi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogjakarta. Selain itu kemampuan awal Djoko melukis lebih banyak didapatkan dari Sanggar Bumi Tarung. Melalui sanggar tersebut, lukisan milik Djoko termasuk dalam lima besar lukisan terbaik di pameran tingkat nasional yang diadakan oleh LEKRA pada tahun 1964. Pada tahun 1965-1972, Djoko sempat menjadi tahanan politik karena hubungannya dengan LEKRA, yang diasosiasikan dengan Partai Komunis Indonesia. Sebelum tahun 1965, Djoko pernah beberapa kali menggelar pameran karyanya di Jakarta. Setelah menjadi tahanan politik, Djoko kemudian vakum sampai tahun 1990. Pada tahun 1990, Djoko mulai memamerkan lagi karyanya di Edwin Galeri Jakarta. Pada tahun 1999, nama Djoko Pekik menjadi lebih dikenal setelah salah satu karyanya terjual seharga satu milyar rupiah. Karya Djoko Pekik masih sering menjadi obyek dalam berbagai pameran, antara lain pada pameran tunggalnya “Jaman Edan Kesurupan” di Galeri Nasional (2013), dan pada “ARTJOG 9” di Jogja National Museum (2016).

Dalam pengantarnya di “Pameran tunggal Lukisan Djoko Pekik” (Solo, 1993), Astri Wright, seorang pengamat seni lukis kontemporer Indonesia, menilai karya Djoko memiliki keunikan karena mengangkat tema yang berbeda dari kebanyakan pelukis dari masanya. Tema yang sering diangkat Djoko tersebut adalah yang berkaitan dengan kesulitan hidup. Selain itu, gaya ekspresionis Djoko terlihat sangat unik. Djoko dinilai terinspirasi oleh teknik-teknik dari Affandi, kemudian mengembangkannya menjadi tekniknya sendiri. Djoko mencairkan cat minyak secukupnya, dan mengusapkannya ke kanvas dengan usapan yang lebar dan basah. Teknik “basah” yang digunakan Djoko tersebut menuntutnya untuk bekerja dengan cepat. Hal itu karena jika sudah mengering, maka Djoko tidak dapat mendapatkan hasil seperti yang diinginkan. Oleh karena itu, seringkali Djoko menyelesaikan lukisannya hanya dalam sekali duduk. Dalam perkembangannya, selain mengangkat tema sosial, karya Djoko juga sering kali mengangkat tema tragedi politik.

Dalam pameran tunggalnya yang berjudul “Jaman Edan Kesurupan” (Jakarta, 2013), Djoko menampilkan 28 lukisan dan tiga patung yang dibuatnya pada periode 1964-2013. Karya Djoko yang dipamerkan mengilustrasikan proses perjalanan hidup Djoko sebagai seorang individu, seniman, dan warga negara. Menurut kurator pameran, M. Dwi Maryanto, pameran tunggal Djoko Pekik yang terakhir ini merupakan gerakan rekonsiliasi seni melalui aktivitas seni. Melalui pameran ini, masyarakat diharapkan menjadi lebih toleran dan terbuka terhadap para eks tahanan politik, khususnya para seniman.  

(Profil ini ditulis Agustus 2016)

http://lelang-lukisanmaestro.blogspot.co.id/2015/07/lukisan-dan-biografi-djoko-pekik.html

http://kompasmuda.com/tag/djoko-pekik/

https://m.tempo.co/read/news/2013/10/04/114519213/djoko-pekik-akan-pamerkan-karya-di-galeri-nasional

Katalog “Pameran Tunggal Lukisan Djoko Pekik” Surakarta, 1993. 702 Pek D

 

JUDUL-KARYA TAHUN PEMBUATAN
Unknown (Djoko Pekik) - 1905 1987-2006