ivaa-online.org

PERISTIWA SENI

Diskusi Seni Lukis Indonesia Tidak Ada

Tanggal Penyelenggaraan : 22 May 2007@Kedai Kebun Forum
Kategori Peristiwa : Lain-lain
Deskripsi :

Diskusi ini membahas tentang ucapan yang pernah dilontarkan Usman Efendi di Lembaga Indonesia Amerika, Jakarta. Diskusi ini merupakan rangkaian dari pameran dan diskusi buku yang dihelat di Kedai Kebun Forum lantai 2. Ucapan Usman Effendi yang sempat memancing perdebatan panjang adalah “Seni Lukis Indonesia Tidak Ada”. Perdebatan terjadi pada lingkup seniman dan budayawan Indonesia. Dalam diskusi yang dihadirkan setelah 30 tahun ucapan itu dilontarkan, setiap peserta dapat mendengarkan ucapan usman secara langsung menggunakan earphone yang sudah disediakan. Diskusi ini menghadirkan Mikke Susanto seorang dosen sekaligus kurator di Jogja Gallery dan Hafidz pendiri Ruangrupa sekaligus freelancer terkait karya seni yang berhubungan dengan audiovisual. Pada diskusi ini lebih fokus membahas pertanyaan tentang  modernitas, identitas, dan nasionalisme yang terkandung dalam seni lukis Indonesia. Pertanyaan tersebut berangkat dari realitas seni di Indonesia yang bermula dari pesanan. Beberapa orang memang ada yang menolak, sebab seniman adalah orang yang independen. Mengutip Djoko, Hafidz kembali mengingatkan tentang Da Vinci seniman besar dunia yang karyanya berangkat dari pesanan. Namun menilik sejarah masa silam, modernitas di Indonesia salah satunya dimulai oleh Persagi. Perkara identitas, menurut Mikke Susanto mengacu pada masing-masing kecerdasan seniman. Dalam penjelasan Mikke Susanto dibahas terkait Indonesia yang belum memiliki museum khusus seni rupa. Dalam pandangannya, itu perlu sebab ada banyak orang tiap tahunnya yang belajar mengenai seni, tetapi tidak dapat melihat secara langsung dan terus menerus terkait karya dan wacana besar tentang seni lukis Indonesia. Selain itu, Indonesia pun belum memiliki orang yang dapat menilai secara khusus atas karya yang sudah ada, terutama dalam hal identitas yang disampaikan. Sebab, secara estetika mungkin saja jelek, tetapi secara identitas itu adalah Indonesia. Bahkan dijelaskan pula oleh Hafidz, bahwa setiap karya memiliki identitas yang berbeda. Hal tersebut ditentukan oleh sosial dan budaya yang berada di sekitar seniman itu sendiri. Bahkan, kreativitas seniman bisa bersumber pada peristiwa bersejarah di Indonesia. Hingga kemudian, itu akan menjadi identitas ke-Indonesia-an ketika karya tersebut diikutsertakan dalam pameran di luar negeri. (RN)

Arsip audio wawancara ini dapat diakses dengan menghubungi arsiparis IVAA melalui email archive@ivaa-online.org

Karya Seni Terkait :
Pelaku Seni Terkait :

Koleksi Dokumen

Judul Dokumen Tahun Terbit