ivaa-online.org

Carla Bianpoen

Carla Bianpoen lahir di Makassar 1936. Ia menempuh pendidikan ilmu sosial di Wilhems University, Muenster/Westfalen, Jerman. Sejak periode 80an, Carla telah aktif menulis mengenai seni. Berawal saat menjadi penulis pengganti di “Indonesia Times”, Carla kemudian aktif menulis ketika menjadi kontributor lepas untuk “The Jakarta Post. Carla kemudian semakin produktif menghasilkan tulisan setelah pensiun dari World Bank di tahun 1988. Hasil tulisannya kemudian berkali-kali dimuat di media internasional, antara lain: The Indonesian Observer, Asian Art News, Indonesia Times, AsiaViews, Visual Art Magazine, dan C-Arts Magazine. Hasil tulisan Carla dikenal tajam dan memiliki cakupan yang luas. Tidak hanya mengenai seni kontemporer di Indonesia, namun juga dalam cakupan Asia Tenggara serta isu seni kontemporer yang sedang berkembang dalam konteks global.

Menurut Carla, seni rupa kontemporer memiliki keunikan tersendiri karena memiliki sifat keninian. Selain itu, interaksi dengan para seniman membuat cakrawalanya mengenai berbagai kemajuan yang sedang terjadi semakin terbuka. Dengan begitu, Carla merasa dapat membuka wawasan mengenai berbagai kemungkinan di masa depan. Selain seni rupa, Carla juga dikenal selalu memperhatikan perkembangan pemberdayaan perempuan. Hingga 2016, Carla masih aktif di berbagai aktivitas yang mengedepankan karya seniman perempuan, ataupun perjuangan yang dialami oleh kaum perempuan. Salah satu hasil karyanya adalah saat menjadi editor, bersama dengan Prof Dr. Mayling Oey-Gerdiner, dalam literatur seni berjudul "Indonesian Women: The Journey Continues". Selain itu, Carla bersama Farah Wardani dan Wulan Dirgantoro menulis buku berjudul "Indonesian Women Artists: The Curtain Opens" pada tahun 2007.

Walaupun sangat aktif dalam menulis artikel seni, Carla sangat jarang menulis untuk katalog pameran. Salah satu tulisan Carla di katalog pameran adalah ketika menjadi Direktur Artisitik untuk Venice Biennale di tahun 2003. Ia bekerja dengan kurator Rifky Effendy untuk mempresentasikan perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Paviliun Indonesia mengangkat tema "Sakti" pada event tersebut. Menurut Carla, “Sakti” adalah sebuah konsep dari budaya Indonesia yang kaya, yang kemudian dapat ditafsikan dalam konteks praktek seni rupa kontemporer. Tim seleksi kemudian memilih karya dari 25 seniman yang sesuai dengan tema "Sakti" untuk mewakili Indonesia, beberapa diantaranya adalah karya dari : Albert Yonathan Setyawan, Eko Nugroho, Entang Wiharso, Sri Astari, Titarubi dan Rahayu Supanggah.

(profil ini ditulis pada November 2016)

sumber:

“Beyond The Dutch: Indonesia, the Netherlands and The Visual Arts, from 1900 until now” (759 bel b)

https://www.youtube.com/watch?v=sc5k6l2bnAY

http://culture360.asef.org/magazine/indonesia-at-the-venice-biennale-in-conversation-with-carla-bianpoen-and-rifky-effendy/

http://lifestyle.bisnis.com/read/20141013/230/264403/inilah-para-penerima-anugerah-adhikarya-rupa-2014